oleh

Seventeen Band Di Mata Pendiri Mahakarya Inc

-Hiburan-305 views

Jakarta,putihitam.com – Dendy pertama kali bertemu dengan grup band Seventeen pada 2004 di Yogyakarta.

Dendy yang pada waktu itu sedang duduk di depan bistro rintisan dengan empat orang temannya yang bernama “Blenck Aidi co” melihat ada motor yang datang untuk berteduh sekaligus melihat-lihat baju yang dia jual.

Orang tersebut tak lain adalah gitaris band Seventeen, Herman. Dendy yang merasa tak asing dengan wajahnya mengatakan bahwa dirinya merasa mengenalnya, namun dengan ramah Herman menjawab “mirip kali mas,”.

Percakapan itu sempat terhenti karena Herman memutuskan untuk fokus memilih baju-baju yang dia sukai dan ingin dia beli.

Usai puas memilih, Herman pun membayar belanjaannya. Akan tetapi mengikuti kata hatinya yang masih penasaran, Dendy kembali mengatakan bahwa dirinya tidak asing dengan sosok lelaki tersebut.

Herman dengan ramah mengeluarkan stiker Seventeen Band, band yang lagu-lagunya disukai oleh Dendy sejak debut mereka di Lembah Universitas Gadjah Mada. Keduanya pun berkenalan dan sore itu berlalu dengan obrolan panjang dan menyenangkan di antara keduanya. Saat pamit, Herman berjanji akan datang kembali dengan personil Seventeen yang lain.

“Saya kemudian menyadari hujan sore itu membuay saya berkenalan dengan Herman menjadi titik penting dalam karir saya,” tulis Dendy seperti yang Bisnis kutip dari instastory-nya, Rabu (26/12/2018).

Tak lama sejak pertemuan mereka, Dendy pun dikenalkan dengan personil Seventeen yang lama, Bani, Andi, Yudhy, Doni dan manager mereka Resa.

Dendy mengatakan bahwa chemistry antar personel Seventeen sangat luar biasa. Di mana untuk album kedua Seventeen, Bistro Dendy dipercaya untuk mengendorse pakaian yang dikenakan oleh para personil Seventeen.

Sayangnya, saat itu band yang terkenal dengan lagu ‘Jaga Slalu Hatimu’ ini sedang menemui jalan buntu, di mana laber Universal yang menaungi mereka sedang menghentikan produksi musik artis lokal.

Seventeen yang membutuhkan investor pun dibantu Dendy dengan membuat Bussiness Plan Album kedua mereka dan mempresentasikannya kepada para Investor yang mumpuni.

Usaha itu tidak sia-sia Dendy dan Resa pun berbagi tugas untuk membangun bisnis Seventeen. Akan tetapi perjalanan mereka tidak mudah, saat mempromosikan album kedua tersebut, pada 2006 terjadi gempa yang dahsyat di Jogjakarta.

Bencana itu, membuat promosi album kedua mereka harus terhenti sementara waktu, personil Seventeen harus pulang ke Jogja untuk masa trauma penyembuhan pascagempa pada keluarga mereka. 

Pada tahun yang sama, Doni sang vokalis juga memutuskan untuk mengundurkan diri yang menyebabkan kreatifitas dari grup band ini diragukan. Bagaimana tidak, Doni merupakan pencipta lagu handal Seventeen pada dua album yang sudah mereka rilis tersebut.

Di tengah duka yang menimpa mereka, ada satu produser musik yang menyarankan agar Herman dkk bubar setelah Doni hengkang.

Akan tetapi, personil Seventeen yang ditinggalkan tak serta merta menyerah. Mereka dengan semangat melakukan audisi untuk vokalis baru, dan bertemulah mereka dengan Ifan.

Suara Ifan yang merdu sangat cocok untuk melantukan lagu-lagu ciptaan personil Seventeen yang lain. Berbekal demo album, Dendy dan Resa menawarkan lagu-lagu baru Seventeen tersebut ke label-label musik di Jakarta pada 2007.

“Intensitas manggung menurun yang mengakibatkan kami pindah beskem ke sebuah gang kecil di pinggiran Jogja rumah petak murah berukuran 4×10 meter,” tutur Dendy.

Dalam rumah petak yang deru nafas tetangganya bisa terdengar tersebut tak menyulutkan semangat personil Seventeen untuk tetap berkarya dan tetap menjadi diri mereka sendiri.

Saat itu, Dendy dan Ifan dkk suka sekali makan nasi kucing dan gorengan untuk menenangkan perut mereka yang lapar.

Dendy sendiri yang sudah lulus dari UGM tak lantas mencari pekerjaan karena dia percaya dengan Seventeen meski kedua orang tuanya tidak memahami cita-cita membesarkan grup band tersebut.

Sayangnya, pada waktu itu nama Seventeen tak kunjung menggema, membuat para personilnya memutuskan melanjutkan hidup mereka dengan cara lain.

Andi memutuskan bekerja sebagai pegawai Bank. Bani menyelesaikan kuliahnya di jurusan Psikologi. Yudy berusaha merampungkan skripsinya agar mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Komunikasi.

Sedangkan Herman bernasip lain, dia tidak dapat merampungkan kuliahnya di jurusan Teknik Elektro dan terancam pulang ke Tidore untuk meneruskan usaha keluarga.

Ifan juga bernasip sama dengan Herman di mana dia tidak menyelesaikan kuliah Ilmu Ekonominya dan sangat berharap Seventeen dapat dikenal banyak orang.

Di saat sulit tersebut, personil Seventeen tetap teguh berkarya. Demo album ketiga mereka pun akhirnya dilirik Mi2 Music Production, sebuah label musik yang baru berdiri yang pada akhirnya mau memproduksi album ketiga mereka.

Album ‘Lelaki Hebat’ dengan single-nya ‘Selalu Mengalah’ membuat nama Seventeen makin bersinar. Perjuangan mereka melewati masa-masa sulit pun seolah terbayarkan dengan suksesnya lagu tersebut.

Mereka pun serentak beli handphone baru bersama, pindah ke basecamp dengan ukuran yang luas, membeli mobil dan instrument baru. 

Kesuksesan album Lelaki Hebat juga membuat Seventeen makin dihargai oleh Event Organizer yang mengundang mereka tampil.

Tahun berlalu, dan nama Seventeen semakin dikenal sebagai salah satu grup band papan atas Indonesia.

Dendy menuturkan Oki dan Ujang merupakan crew yang luar biasa dalam setiap aktifitas manggung dan tour Seventeen.

Usai para personil berkeluarga dan memiliki prioritas hidupnya masing-masing, berbekal pengalamannya Dendy pun akhirnya memutuskan untuk membangun Mahakarya pada 2009.

Meski sudah tidak secara langsung turun menangani Seventeen, Mahakarya berhasil merilis Sidepony, Karivella, Caroline, Indentity dan Sekoci yang masing-masing diproduseri oleh para personil Seventeen. Dimulai itu, kini keluarga Mahakarya makin membesar.

Dendy menuturkan kesibukan mereka yang padat tak menghalangi mereka untuk tetap menjalin persahabatan. Bahkan, pada 13 Desember 2018 mereka masih mendiskusikan persiapan konser 20 tahun Seventeen dan berniat membuat film dokumenter dengan mengumpulkan footage yang sudah tersebar sejak 2003.

Akan tetapi semua berubah ketiga pada 22 Desember 2018 malam tsunami menggulung panggung tempat personil Seventeen manggung di Tanjung Lesung.

Seperti yang kita ketahui, Andi, Herman, Bani menjadi korban meninggal pada peristiwa naas tersebut.

Dendy menuturkan rasa kehilangan yang dirasakannya seolah-olah sudah diceritakan oleh lagu ‘Kemarin’ Seventeen yang dirilis pada 21 Desember 2016.

Lagu tersebut merupakan lagu yang diciptakan oleh Herman. Di mana Herman juga menuturkan bahwa lagu tersebut memang berisikan kisah tentang kemantian.

“Iya itu lagu tentang kematian sob, nggak tau kenapa tiba-tiba keluar begitu aja,” kata Herman saat memberikan penjelasan kepada Dendy.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed