oleh

Beban Resiko Global Ekonomi Akibat Ketegangan internasional dan Polotik Nasionalis

Jakarta, Putihhitam.com – Ketegangan internasional dan politik nasionalis bisa semakin membebani ekonomi global tahun ini dan menghambat upaya dalam menangani masalah-masalah besar, seperti perubahan iklim.

Laporan Risiko Global Forum Ekonomi Dunia 2019, yang diterbitkan Rabu (16/1/2019), menunjukkan kondisi ekonomi dan geopolitik mengalami kemunduran, serta perselisihan perdagangan memburuk dengan cepat pada 2018.

Laporan yang didasarkan atas pandangan dari 1.000 ahli dan pengambil keputusan tersebut, memperingatkan bahwa pertumbuhan tahun ini akan tertahan oleh berlanjutnya ketegangan geoekonomi. 88% responden memperkirakan erosi lebih lanjut dari peraturan dan perjanjian perdagangan multilateral.

“Jika hambatan ekonomi menimbulkan ancaman terhadap kerja sama internasional, upaya yang ada akan terganggu lebih lanjut pada 2019 dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di antara kekuatan utama, AS dan China,” tulis laporan itu.

85% responden pada survei tahun ini mengatakan bahwa mereka memperkirakan 2019 akan melibatkan peningkatan risiko “konfrontasi politik antara negara-negara besar”.

“Perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi berisiko pada tahun ini, sehingga ada kebutuhan yang lebih mendesak daripada sebelumnya untuk memperbarui arsitektur kerja sama internasional. Kita sama sekali tidak memiliki amunisi untuk menghadapi jenis perlambatan oleh dinamika saat ini,” kata Borge Brende, Presiden Forum Ekonomi Dunia.

“Yang kita butuhkan sekarang ialah tindakan terkoordinasi dan terpadu untuk mempertahankan pertumbuhan dan mengatasi ancaman serius yang dihadapi dunia kita saat ini,” imbuhnya.

Dalam survei, risiko dunia maya melonjak sepanjang 2018, tetapi risiko lingkungan terus mendominasi kekhawatiran para responden dalam jangka panjang. Kelima risiko lingkungan itu, yakni hilangnya keanekaragaman hayati, cuaca ekstrem, kegagalan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, bencana buatan manusia, dan bencana alam.

Alison Martin, Kepala Grup Petugas Risiko, Grup Asuransi Zurich, mengatakan, “2018 adalah tahun penuh dengan kebakaran hutan, banjir besar, dan meningkatnya emisi gas rumah kaca. Tidak mengherankan pada 2019, risiko lingkungan sekali lagi mendominasi daftar masalah utama.”

Untuk merespons perubahan iklim, secara efektif diperlukan peningkatan infrastruktur yang signifikan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan menjalani transisi ke ekonomi rendah karbon.

Menjelang 2040, kesenjangan investasi dalam infrastruktur global diperkirakan mencapai US$18 triliun terhadap kebutuhan yang diproyeksikan sebesar US$97 triliun.

“Kami sangat merekomendasikan agar bisnis mengembangkan strategi adaptasi ketahanan iklim ditindaklanjuti sekarang juga,” tegas Alison.

Kekurangan investasi dalam infrastruktur kritis seperti transportasi, dapat menyebabkan kerusakan sistem secara luas serta memperburuk risiko-risiko yang terkait dengan masyarakat, lingkungan, dan kesehatan.

John Drzik, Presiden Risiko Global dan Digital, Marsh, mengatakan, kekurangan dana dari infrastruktur kritis di seluruh dunia menghambat kemajuan ekonomi, yang membuat bisnis dan masyarakat lebih rentan terhadap serangan dunia maya dan bencana alam, serta gagal memanfaatkan inovasi teknologi.

“Mengalokasikan sumber daya untuk investasi infrastruktur, sebagian melalui insentif baru untuk kemitraan publik swasta, adalah sangat penting untuk membangun dan memperkuat pondasi fisik dan jaringan digital yang akan membantu masyarakat tumbuh dan berkembang,” ujar John. Red

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *